• Dialogue Communications

Startup Codafood Bidik Peluang Bisnis Makanan Khas Indonesia Bersaing di Pasar Global

Industri kuliner Indonesia merupakan arena dengan tingkat kompetisi yang sangat tinggi. Maraknya pemain baru dengan berbagai inovasi dan permodalan yang kuat seakan siap merebut target konsumen para pemain lama. Metode paling umum yang dilakukan pelaku industri kuliner adalah dengan membuat banyak cabang, baik yang dikelola sendiri atau dengan konsep waralaba (franchise).


PT Coda Pangan Sejahtera (Codafood) menilik peluang usaha yang bisa dikembangkan dari trend di atas. Codafood menilai, sudah saatnya industri kuliner Indonesia beranjak dari pasar nasional ke pasar global. Target ambisius ini tentu bukanlah hal mudah jika dijalankan sendiri oleh si pemilik usaha. Namun, CEO Codafood Albert Christo menyatakan disinilah letak peluang yang menarik untuk digarap.



“Codafood memiliki visi untuk memperkenalkan lebih banyak lagi ragam kuliner tanah air di luar negeri. Hal ini juga sejalan dengan visi Kementerian Pariwisata yang menetapkan lima ikon kuliner sebagai makanan nasional Indonesia untuk selalu dibawa dalam setiap agenda promosi wisata, yakni soto, rendang, nasi goreng, sate dan gado-gado. Kami melihat tantangan yang muncul bagi pemilik merek atau produk adalah dari sisi akses dan keterbatasan akan pengetahuan minat pasar global. Karenanya, Codafood hadir untuk menjembatani kebutuhan pelaku usaha kuliner dengan target pasar yang agar bisa diterima oleh target konsumen baru yaitu masyarakat global,” tutur Albert.


Albert menambahkan bahwa saat ini Codafood telah mengembangkan pilot project pertamanya, yakni membuka cabang pertama Soto Betawi Bang Rojak di Jepang. Sebagai informasi, gerai Soto Betawi Bang Rojak saat ini sudah memiliki tiga cabang di Indonesia. Upaya Codafood dalam menjembatani akses gerai Soto Betawi Rojak ke calon target pasarnya di Jepang salah satunya dimulai dengan menggelar food tasting dengan sejumlah warga negara Jepang asli yang tinggal di Jakarta. Dari sini, pemilik usaha akan mendapatkan banyak informasi dan masukan untuk bisa memantapkan langkahnya menuju pasar luar negeri. Hasilnya, agar dapat diterima dengan baik oleh masyarakat Jepang, nama merek Soto ini diganti dengan nama Soto Betawi Miyamoto yang ditargetkan akan dibuka pada kuartal pertama di tahun 2020.



Codafood x BRBGKLTR: Berbagi Kultur Indonesia melalui Ekspansi Kuliner

Aktor ternama Herjunot Ali yang kini giat mengembangkan platform digitalnya BRBGKLTR (Berbagi Kultur) juga turut andil dalam membesarkan kuliner otentik Indonesia bersama Codafood. Menjabat sebagai Komisaris, Herjunot Ali mengemukakan optimismenya terhadap cita rasa khas Indonesia di kancah internasional.


“Berbagi Kultur dan Codafood memiliki kesamaan visi dan misi yakni mengenalkan warisan budaya Indonesia dan mempertahankannya lewat pendekatan unik dan inovatif. Melalui Codafood, saya juga berharap ragam kuliner Indonesia dapat merambah pasar global dan tentunya menjadi penyumbang signifikan bagi jumlah franchise di luar Indonesia yang saat ini masih banyak didominasi pemain asing,“ tutur pria yang kerap disapa Junot ini.


Junot memprediksi, di tahun 2020 Codafood dapat membuka setidaknya lima franchise kuliner khas Indonesia di luar negeri. “Tentunya kami ingin membangkitkan optimisme pelaku industri kuliner otentik Indonesia untuk terus berkarya dan berani bermimpi lebih tinggi lagi untuk bisa bersaing di arena yang lebih luas bersama Codafood. Harapan kami tentunya agar semakin banyak bisnis yang bergabung dan local partnerdi negara tujuan bisa melihat potensi kuliner Indonesia mampu mendatangkan profit bagi mereka. Kami juga ingin menjadi bagian dari perwujudan cita-cita pemerintah yang pernah disampaikan oleh Kementerian Perdangangan agar waralaba dalam negeri bisa lebih agresif menyasar pasar luar negeri guna meningkatkan daya saing nasional lewat kuliner,” ujar Junot.


Secara global, statistik dari The World Franchise Council (WFC) Meeting menunjukkan bahwa waralaba berkontribusi sebesar 2,7% terhadap ekonomi negara anggota WFC. Statistik yang disusun dalam WFC tentang Economic Impact of Franchising Worldwide ini juga melaporkan bahwa di tahun 2019, lanskap waralaba global mencatat pertumbuhan bisnis waralaba sebesar 2.000.000 bisnis waralaba di seluruh dunia yang mampu menciptakan 19.000.000 pekerjaan kepada masyarakat.


Berangkat dari data di atas, Codafood semakin mantap untuk menjajaki peluang kemitraan dengan pemilik bisnis-bisnis kuliner otentik khas Indonesia dan juga pihak-pihak pemilik modal luar negeri yang berminat untuk membuka cabang bisnis kuliner khas Indonesia di negara asal mereka dengan tiga jenis konsep, mulai dari license buying, waralaba atau supply bahan baku. Menurut Albert, model bisnis waralaba masih sangat relevan khususnya jika digunakan untuk pengembangan bisnis nasional ke pasar global. “Model franchise memungkinkan pemilik merek mengenalkan produknya dengan efisien, dimana Codafood akan melakukan berbagai kurasi untuk menyesuaikan produk sebelum dilemparkan ke pasaran. Waralaba dalam hal ini berperan untuk mempercepat penyebaran standarisasi tersebut agar bisa diadopsi di daerah-daerah lain oleh para local partners (di negara tujuan),” tutur Albert.


Seperti halnya Soto Betawi Miyamoto, setiap merek yang akan dipasarkan di luar negeri harus melewati proses kurasi dari Codafood. “Agar bisa diterima dengan baik dan bertahan, sebelumnya perlu dilakukan sorting brand, rebranding sesuai dengan market negara tujuan, penyesuaian bahan baku dan food tasting untuk validasi rasa,” tutup Albert.



© 2018 by Dialogue Communications

Indonesia Stock Exchange Building I

26th Floor (2608)

Jl. Jenderal Sudirman Kav 52 – 53

Jakarta 12190, Indonesia

  • Dialogue Communications
  • dialoguecomms.id
  • DialogueTunes