• Dialogue Communications

Misi Inklusi Keuangan Bagi Kalangan Milenial Dorong Raiz Invest Ekspansi Bisnis ke Indonesia

Jakarta, 11 September 2019 – Indonesia menjadi negara dengan iklim yang subur bagi pertumbuhan perusahaan rintisan (startup). Di tahun 2019, Indonesia tercatat menduduki peringkat ke-5 sebagai negara dengan perusahaan startup terbanyak, tepat di bawah Inggris dan Kanada. Jumlah perusahaan rintisan kini telah mencapai lebih dari 2,000 perusahaan dan diperkirakan akan terus bertambah. Agresifnya pertumbuhan perusahaan rintisan ini dikhawatirkan memicu kembali lahirnya fenomena bubble yang pernah terjadi saat adanya lonjakan valuasi perusahaan teknologi dan internet di era tahun 2000-an lalu. Kala itu, luapan dana dari investor ternyata tidak sebanding dengan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan, sehingga banyak perusahaan yang bangkrut dan investor pun merugi.


Usai era kejayaan perusahaan Internet (dotcom companies), kini muncul era perusahaan startup berbasis teknologi. Michael N. Luhukay, seorang penggiat startup, memilih tetap optimis berkarya di industri ini meskipun momok startup bubble mulai berhembus. Ia merupakan sosok yang memulai ekspansi bisnis Raiz Invest asal Australia ke Indonesia dari titik nol. Raiz sendiri merupakan aplikasi investasi berbasis mobile yang memungkinkan masyarakat berinvestasi di Reksa Dana. “Sebelum mempercayakan dananya pada suatu bisnis, seorang investor harus mampu melihat apakah ide yang ditawarkan dapat menjadi solusi strategis bagi problem dialaminya.” terang Michael.


Menurut Michael, sejak awal ia telah melihat bahwa karakteristik platform Raiz dapat menjadi solusi yang progresif atas permasalahan rendahnya tingkat literasi dan inklusi keuangan di masyarakat, khususnya dalam konteks investasi di pasar modal.


“Membangun kebiasaan berinvestasi pada generasi milenial bukan sekedar menawarkan teknologi atau imbal hasil yang tinggi saja, namun juga harus dapat mengakomodir karakter mereka yang dikenal kritis dan dinamis, guna menumbuhkan kepercayaan diri mereka. Pendekatan learning by doing yang dipakai oleh Raiz kiranya dapat mengantarkan mereka langsung pada kegiatan investasi, sehingga mereka bisa merasakan sendiri dinamika investasi, dan potensi imbal hasil versus risiko. Selain itu, nilai minimum investasi yang kecil akan membantu menurunkan entry barrier, sehingga mereka bisa belajar berinvestasi tanpa dihantui ketakutan sekiranya mereka mengalami kerugian investasi,” ungkap Michael.

Keyakinan tersebut turut menguat berkat keberhasilan platform Raiz yang sudah beroperasi di Australia sejak tahun 2016. Dalam waktu tiga tahun semenjak peluncurannya, aplikasi Raiz di Australia telah diunduh sebanyak lebih dari 1,1 juta kali, memiliki lebih dari 700.000 pengguna,

di mana lebih dari 194.000 adalah pengguna aktif. Berkat Raiz, makin banyak generasi milenial Australia yang menjadikan investasi sebagai gaya hidup mereka.


Berbekal rekam jejak Raiz yang berhasil memberikan manfaat bagi milenial Australia, Michael bergerak cepat dan menyambut baik peluang ekspansi bisnis Raiz di Indonesia. Berbagai tahapan dijalankan, mulai dari observasi terhadap perkembangan bisnis di Australia, menguji kesiapan penerapan teknologi machine learning atau robo advisor di Indonesia, riset mendalam terhadap pasar Indonesia, focus group discussion dengan stakeholders dan sejumlah target pengguna, serta pendekatan yang transparan dan konsisten untuk meyakinkan regulator Indonesia.


Sederet proses tersebut merupakan upaya mengadopsi layanan Raiz bagi pasar Indonesia. Meskipun Raiz di Indonesia dan Australia mengusung misi yang sama, adaptasi layanan Raiz di Indonesia mutlak dilakukan karena sejumlah perbedaan, terutama terkait regulasi antar negara, karakteristik pasar, perilaku pengguna, hingga tren produk. Sebagai contoh, di Australia Raiz merupakan perusahaan Manajer Investasi yang membuat dan mengelola sendiri produk-produknya. Sementara di Indonesia, Raiz merupakan perusahaan dengan lisensi Agen Penjual Reksa Dana dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang berperan membuka akses masyarakat terhadap produk Reksa Dana melalui ekosistem Raiz. Pilihan ini diambil karena berkaca dari jumlah produk Reksa Dana di Indonesia yang kini mencapai lebih dari 2,000 produk, sementara jumlah investor Reksa Dana masih relatif rendah di kisaran angka 1,39 juta investor. Berdasarkan data tersebut, Raiz Invest Indonesia lebih memilih menurunkan entry barriers bagi investor ketimbang meningkatkan jumlah produk, karena pendekatan ini lebih efektif untuk menumbuhkan jumlah investor.


Sebagai sosok di balik perjalanan ekspansi Raiz ke Indonesia, Michael kini juga menjabat sebagai Komisaris di Raiz Invest Indonesia. Berbeda dengan peran pendiri startup pada umumnya yang menduduki posisi C-Level, Michael memilih menjadi Komisaris agar ia dapat mendedikasikan pengalamannya dari berbagai industri startup untuk Raiz tanpa harus terfokus dengan bidang tertentu saja. Untuk itu, ia mempercayakan kepemimpinan Raiz kepada Melinda N. Wiria, seorang profesional dengan pengalaman puluhan tahun di bidang investasi pasar modal untuk menjadi CEO Raiz Invest Indonesia.


Lebih lanjut, Michael mengaku menjadi Komisaris di startup sangat berbeda dengan menjadi Komisaris di perusahaan besar yang umumnya hanya melakukan fungsi pengawasan serta evaluasi terhadap kinerja Direksi. “Sebagai bagian dari generasi milenial, saya sangat antusias dengan kehadiran Raiz untuk menjawab permasalahan generasi milenial yang selama ini belum terbiasa dengan investasi. Karena itu, berbicara kapasitas sebagai Komisaris, saya juga turun tangan memberikan dukungan dari berbagai aspek agar misi Raiz bisa tercapai, mulai dari mencari pendanaan dari venture capital maupun investor, melakukan dan memberikan saran bagi strategi pemasaran agar senantiasa relevan dengan generasi milenial, membuka akses kemitraan dengan mitra yang potensial, serta memanfaatkan semua jejaring dan pengalaman yang selama ini terbangun dari berbagai bisnis startup yang sudah saya tekuni selama ini.”


Sebagai Komisaris dan juga investor Raiz Invest Indonesia, Michael optimis akan prospek bisnis Raiz ke depannya. Sejak soft laucnching di Maret 2019, Raiz telah memiliki 90,000 calon pengguna (pre-sign up users) dan berambisi meraih satu juta pengguna dalam tiga tahun ke depan. Sebagai platform dengan ekosistem tertutup, Raiz juga akan terus menambah mitra strategis demi menjaring lebih banyak pengguna dan menawarkan lebih banyak lagi solusi inovatif.

***


Tentang Michael N. Luhukay

Michael N. Luhukay adalah Komisaris Raiz Invest Indonesia yang juga merupakan penggiat perusahaan rintisan (startup). Selama kurang lebih sepuluh tahun terakhir, Michael telah mendirikan dan memimpin sejumlah startup, antara lain sebagai CEO Kartoo di tahun 2018, pendiri digital media Fix Production yang hingga kini telah memiliki lebih dari 180,000 pengikut di YouTube, dan pendiri portal komunitas mobil sports Speed Creed yang menjadi promotor berbagai acara dan komunitas mobil sports di Jakarta. Michael meraih gelar Bachelor of Science di bidang Entrepreneurship dari Babson College di Amerika Serikat.


Tentang Raiz Invest Indonesia

PT Raiz Invest Indonesia (“Raiz”) terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan telah memperoleh izin usaha sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dari OJK pada tanggal 10 Desember 2018 berdasarkan Surat Keputusan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Nomor KEP-19/PM.21/2018. Aplikasi Raiz pertama kali diluncurkan di Australia pada bulan Februari 2016 dan saat ini telah diunduh lebih dari 1,1 juta kali serta berhasil meraih berbagai penghargaan di industri teknologi finansial. Sebagai lembaga keuangan portabel untuk kaum milenial, Raiz bertujuan mendidik para penggunanya tentang literasi keuangan serta memfasilitasi inklusi keuangan, yang semuanya terintegrasi dalam satu aplikasi yang mudah digunakan.

© 2018 by Dialogue Communications

World Trade Center (WTC), 10th Floor

Jl. Jendral Sudirman Kav. 29-31

Jakarta, 12920

  • Dialogue Communications
  • dialoguecomms.id
  • DialogueTunes