• Dialogue Communications

Menilik Potensi TikTok pada Branding di Tengah Pandemi


Situasi Social distancing telah memunculkan demam TikTok di seluruh negara termasuk Indonesia. Aplikasi yang sempat ‘termarjinalkan’ di Indonesia setelah kasus Bowo Alpenliebe, saat ini justru menjadi primadona pengguna dalam berekspresi terlebih di kala social distancing.



Pesatnya penggunaan TikTok kala pandemi terlihat dari linimasa media sosial seperti Twitter dan Instagram. Saat sedang menggulir feed atau timeline, tak jarang video-video viral TikTok terselip di antaranya. Di bulan Februari 2020, Omni Core Agency mencatat terdapat setidaknya 800 juta pengguna aktif TikTok yang rata-rata memanfaatkan 52 menit pada aplikasi per harinya. Fitur TikTok yang user-friendly dan sangat interaktif mampu memikat pengguna serta mendongkrak aplikasi video singkat ini hingga melampaui popularitas Facebook dan Instagram.



Naik daunnya TikTok tak ayal membuat para penggiat brand tergiur untuk memasarkan produk atau jasa lewat aplikasi ini. Kondisi ini bukan tanpa alasan mengingat periode isolasi diri telah membuat pengguna aplikasi sosial semakin mendekati TikTok. Di Indonesia sendiri bahkan bukan hanya Gen Z, beberapa public figure kenamaan seperti Dian Sastrowardoyo, Jennifer Bachdim, Gisella Anastasia, hingga Sandiaga Uno turut meramaikan panggung TikTok.


Melihat fenomena demam ini, muncul pertanyaan apakah para pelaku bisnis perlu menambahkan TikTok dalam jajaran platform promosi atau branding? Menjawab pertanyaan ini, terdapat beberapa hal yang patut dipertimbangkan sebelum menentukan strategi pemasaran pada aplikasi TikTok.

Selain melihat karakteristik bisnis, d saat situasi krisis, kondisi market juga perlu dipertimbangkan. Bagi brand dengan target masyarakat sebagai end-consumer, kondisi pandemi dapat menjadi pertimbangan untuk mulai membangun posisi lewat TikTok. Aktivasi digital melalui TikTok dapat membawa manfaat besar bagi brand mengingat kondisi #DiRumahAja membuat sebagian masyarakat mulai merasakan kebosanan serta mencari aktivitas lain untuk 'kabur' sejenak dari rutinitas Work From Home mereka. Namun begitu, para penggiat brand juga perlu memperhatikan keberlangsungan TikTok sebagai platform branding jangka panjang. Masifnya pengguna TikTok saat ini dikhawatirkan hanya menjadi fenomena temporer semata sehingga dapat berimbas pada aktivitas pemasaran yang tidak berkelanjutan.


Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap aplikasi memiliki karakteristik dan tipikal pengguna yang berbeda-beda sehingga pendekatan brand juga sangat ditentukan oleh faktor ini. Keterbatasan ‘karakter’ Twitter misalnya telah membawa Instagram menjadi platform yang populer dalam promosi brand hingga saat ini. Namun karena hal ini, tidak lantas Twitter ditinggalkan sebab media sosial yang satu ini memiliki audiens yang istimewa bagi promosi brand. Oleh karenanya, dengan karakteristik platform dan penggunanya yang unik, setiap brand saling bersaing menampilkan portofolio produk dalam Instagram grid semenarik mungkin ataupun membangun percakapan yang engaging di Twitter sebagai upaya membangun reputasi.

Lalu bagaimana dengan TikTok? Apakah ‘demam’ ini dapat menjadi langkah awal untuk mengintegrasikan TikTok dalam deretan platform branding terlebih dalam situasi pandemi ini. Melihat kesuksesan TikTok serta dibarengi dengan hasil riset audience yang mendukung, brand dapat mulai membangun platform TikTok mereka.


Namun saat ini, brand perlu sangat berhati-hati serta mempertimbangkan sensitivitas dalam memproduksi konten TikTok. Belum adanya playbook bagi brand dalam menggunakan TikTok, serta kelengkapan fitur yang ditawarkan seperti visual filters, time effects, split screens, green screens, transitions, stickers, GIFs, emoji, dan masih banyak lagi, membuat brand seolah-olah ‘bebas’ bereksperimen. Hal ini dapat berpotensi buruk bila penggiat brand bila tidak berhati-hati dalam eksekusi branding.

Hal penting yang perlu dilakukan oleh setiap brand adalah membangun empati dalam menjalankan kampanye komunikasi agar tidak terjebak pada tone deaf atau terkesan apatis dengan kesulitan yang dihadapi seluruh masyarakat bahkan target konsumen kala pandemi. Sehingga pemilihan platform branding harus menjadi pertimbangkan utama.


Situasi saat ini adalah momentum untuk membangun empati terhadap sesama.


Pandemi Covid-19 yang telah berimbas pada seluruh aspek kehidupan perlu direspon oleh brand secara bijaksana melalui konten atau informasi yang relevan terhadap situasi sulit ini. Misalnya dengan mengadakan kelas belajar atau sosialisasi online untuk mendukung produktivitas akan memberikan dampak lebih besar bagi masyarakat dibandingkan dengan kampanye tarian untuk promosi sebuah brand yang terkesan oportunis dan hard selling.



Kampanye edukatif dalam menghadapi COVID-19 dapat digulirkan oleh brand melalui TikTok. Cerita sukses dari beberapa brand, seperti Alodokter, dalam menggunakan TikTok dapat menjadi catatan penting akan bagaimana seharusnya eksekusi kampanye digital melalui TikTok agar dapat menghadirkan dampak positif.


Ditulis oleh: Bela Dienna

Every business owner surely has a rule-of-thumb when doing their daily operational business. Yet, having a go-to plan is not always work, especially when you are facing a great storm. At Dialogue, we are keen to promote flexibility partnership with our clients as we are for sure understand how tough it is to build and sustain the ship. While you are enjoying our write-up, do let us know should you need further discussion on how to rejuvenate the communications strategy when the rainbow comes at last.


Access here to Reverberate your Rebound!

© 2018 by Dialogue Communications

Indonesia Stock Exchange Building I

26th Floor (2608)

Jl. Jenderal Sudirman Kav 52 – 53

Jakarta 12190, Indonesia

  • Dialogue Communications
  • dialoguecomms.id
  • DialogueTunes