• Dialogue Communications

Jangan Gegabah dan Bertindak Seperlunya, Kunci Penyampaian Komunikasi Eksternal di Masa Krisis

Istilah Fear of Missing Out (FOMO) seringkali ditemukan di kelompok sosial yang memandang eksistensi adalah kunci. Namun nyatanya, FOMO tidak hanya terjadi di kalangan sosial namun juga di ranah perusahaan. Keberadaan public relations menjadi ujung tombak bagi perusahaan agar tetap relevan bagi stakeholder, sekaligus menjaga eksistensi brand tetap tinggi.



Selain mengelola komunikasi internal dan eksternal, keberadaan public relations di perusahaan juga berperan untuk memantau kondisi terkini dan menyusun strategi yang paling mujarab untuk bisa membonceng momentum sesuai dengan kemampuan dan kapasitas perusahaan.


Namun, tidak semua momentum harus dan bisa diolah menjadi kesempatan berkampanye bagi public relations. Terlebih di masa krisis, penting bagi public relations untuk menelaah pro dan kontra sebelum meluncurkan kampanye ataupun aksi korporasi.

Communications Manager dari Vivint Solar, Cosette Jarrett menunjukkan dengan gamblang bagaimana divisi komunikasi perusahaan harus terlebih dahulu memetakan setidaknya tiga (3) hal sebelum memutuskan untuk menggelontorkan komunikasi eksternal dalam kondisi krisis.


Dilatarbelakangi oleh krisis pandemi COVID-19, Jarrett menyatakan bahwa telah banyak sekali perusahaan yang mencoba untuk mengeluarkan terobosan, aksi sosial, dan berbagai kontribusi positif bagi komunitas yang rentan terdampak krisis. Hal di atas menjadi penting dilakukan karena bagaimanapun, perusahaan atau brand akan terus dikenang aksinya dalam menghadapi krisis pandemi. Inilah yang membuat ‘perlombaan’ kampanye komunikasi terus bergulir. Meskipun demikian, Jarrett menyatakan, tidak semua perusahaan memiliki kapasitas untuk bisa menciptakan terobosan yang langsung berdampak kepada publik.



Adapun tiga hal yang ia sebutkan sebelumnya adalah pertanyaan yang perlu diinternalisasi oleh divisi public relations setiap perusahaan. Pertama, adakah saran bermanfaat yang bisa diberikan kepada publik?.


Perusahaan harus mampu menakar apakah pihaknya bisa memberikan saran-saran (advisory) yang bisa meringankan proses transisi publik dari kebiasaan lama yang menjadi lebih terbatas karena imbauan social distancing. Oleh karena itu, menyadari apakah brand atau perusahaan memiliki kapasitas ini adalah penting, karena sebagian besar masyarakat telah menjalani perubahan dalam cara mereka beraktivitas, belajar, bekerja, menikmati hiburan dan berinteraksi sosial.


Di Indonesia, kita menjumpai banyak sekali kampanye bantuan sosial, advertising berisikan anjuran untuk #dirumahaja, atau donasi-donasi yang digalang lewat beragam konser musik virtual. Seluruh kegiatan tadi bermuara pada satu hal, yakni dukungan kepada masyarakat untuk bisa menikmati isolasi mandiri tanpa embel-embel promosi yang kentara. Sementara itu, bagi perusahaan yang tidak ingin terlalu “tampil”, maka pemilihan owned-media channel seperti blog, sosial media, artikel ataupun video yang didistribusikan secara internal tetap bisa dilakukan.

Beranjak ke pertanyaan kedua, Jarrett mengimbau agar public relations perusahaan dan brand mulai peka pada diskusi-diskusi di lingkaran industrinya. Apakah ada topik atau diskusi yang sedang naik daun (trending). Dari sini, public relations dapat menelaah apakah perusahaan atau brand memiliki kapasitas untuk ikut dalam tren sekaligus mempromosikan produk atau jasanya. Beberapa contoh menarik adalah ketika perusahaan Amerika Serikat West Elm memberikan stok background gratis untuk pengguna Zoom. Inisiatif ini diberikan untuk memberikan pengalaman video conference di “properti impian” pengguna Zoom.


Karena terdapat unsur promosi di dalam konteks ini, Jarrett mengingatkan agar brand tidak gegabah untuk terus menerus mempromosikan produk atau mengeluarkan updateperusahaan yang tidak relevan. Jika perusahaan terus menjalankan praktik tone-deaf pitching ini, maka bisa jadi perusahaan akan terpapar risiko ditinggalkan oleh konsumen atau mendapat testimoni negatif yang berisiko viral di sosial media, atau bahkan mengundang kritik yang berujung krisis. Sehingga, di bagian ini, kebijaksanaan dan kemampuan memandang faktor risiko di masa depan menjadi sangat berpengaruh.


Pertanyaan terakhir, bagaimana Anda bisa membantu masyarakat? Pertanyaan ini ditujukan kepada perusahaan-perusahaan yang tetap butuh untuk tampil dan relevan, dengan beragam latar belakang keahlian orang-orang di dalamnya. Bagian ini mungkin lebih tepat jika dikorelasikan dengan skill sumber daya manusia di perusahaan. Selain fokus untuk mengelola komunikasi perusahaan, public relations juga sebaiknya peka terhadap skill karyawan di dalam perusahaan.


Boleh jadi ada potensi terselubung yang bisa dimaksimalkan untuk memperkuat branding dan positioning perusahaan lewat eskalasi potensi karyawan. Hal ini sering kita lihat dari banyaknya perusahaan yang tidak lagi menjadikan CEO atau Direktur Utama sebagai wajah utama perusahaan. Pembagian tugas sebagai narasumber sampai ke level middle-manager bisa menjadi strategi yang baik untuk menyampaikan hal-hal positif kepada masyarakat. Beberapa cara misalnya, dengan mengadakan kelas online gratis, webinar tentang market update, sampai tips mengelola ritme kerja di rumah.


Komunikasi yang efektif untuk stakeholders internal dan eksternal perlu diarahkan agar setiap penerima pesan bisa memahami bahwa perusahaan tengah melakukan upaya untuk mendorong kinerja dan efisiensi di masa krisis, tanpa mengurangi esensi bahwa kepedulian sosial juga tengah dibangun.


Pada akhirnya, semua tindakan organisasi sangat ditentukan oleh prioritas perusahaan dalam jangka pendek. Peran public relations menjadi sangat krusial sebagai penyaring atas gagasan-gagasan yang muncul dari prioritas jangka pendek tersebut. Jangan sampai perusahaan tampak arogan, tidak sensitif, atau bahkan “aji mumpung” di tengah audiens yang tengah mengalami krisis dan cenderung sensitif.


Ditulis oleh: Neily Cholida

Getting closer to your costumer is important, but letting them get a taste of experience to learn your brand, is beyond greatness. We believe that as customers, could grow accustome to a certain loyalty toward brands. That at least, can be proven on my long lists of personal hygine brands in my bathroom, or basic staple foods in my kitchen! The key is to enabling your brand speaks wisdom and communications may boost the significance even bigger. Check on our portfolio and brand new offering for ventures who wishes to kickstart the branding and communications strategy within the new normal.

Check out our latest offer here!

© 2018 by Dialogue Communications

Indonesia Stock Exchange Building I

26th Floor (2608)

Jl. Jenderal Sudirman Kav 52 – 53

Jakarta 12190, Indonesia

  • Dialogue Communications
  • dialoguecomms.id
  • DialogueTunes