• Dialogue Communications

Industri Event di Era Pandemi, Masihkah Gemerlap?



Perlahan tapi pasti, bisnis kembali membuka diri. Para pekerja kembali ke kantor, meski pelajar, belum boleh kembali menginjak bangku sekolah atau kampusnya. Bagi pengusaha, pandemi COVID-19 yang masih berlangsung, membuat banyak implementasi aturan baru yang diharapkan bisa mendekati standar physical distancing. Pusat perbelanjaan membatasi jam operasional, arena olahraga membatasi kelas-kelas dan waktu pemakaian alat, restoran kembali menerima dine-in dengan maksimal 50 persen kapasitas.


Mobilisasi manusia yang perlahan kembali bergerak ke arah normal nampaknya masih disikapi dengan sangat hati-hati oleh bisnis yang meraup keuntungan dari keramaian. Salah satunya industri event. Live experience yang jadi kunci penjualan kini harus dirombak sedemikian rupa agar bisnis tetap berjalan dengan tetap meminimalisir risiko penularan. Adapun, beberapa event dan pertemuan yang digelar oleh beberapa perusahaan, kementerian maupun komunitas masyarakat sudah mulai banyak terlihat.


Hal di atas sudah diprediksi oleh para pelaku industri event, baik di lingkup nasional maupun global. Dalam tulisannya, Laura Mignott menyampaikan pelaku industri event akan memasukkan beberapa hal untuk pertimbangan sebelum menggelar event atau pertemuan lainnya.

Pertama, rekomendasi untuk melakukan virtual event akan semakin diupayakan. Hal ini bisa jadi diikuti dengan adopsi platform social media, software video conference. Di Indonesia, platform LOKET mencatat kenaikan signifikan dari masyarakat atau instansi yang menggelar event-event virtual dengan pengemasan layaknya agenda event professional. Sebut saja, Orkestra di Rumah oleh Erwin Gutawa dan para musisinya.



Kendati demikian, seringkali pilihan untuk menggelar event virtual tidak memungkinkan karena sifat dari pertemuan. Misalnya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Rapat Terbatas, dan lainnya. Jika sudah begitu, pengelola event harus menempatkan standar kesehatan di atas segalanya ketika menyusun rencana dan strategi. Mignott menekankan tiga (3) hal yang akan dirasakan oleh audiens ketika mereka memutuskan untuk hadir ke pertemuan offline.


Pertama, mereka perlu merasa terlindungi sejak awal menerima undangan, dalam perjalanan memasuki event, sampai ketika selesai menghadiri acara. Hal ini bisa dilakukan dengan misalnya meminta calon audiens mengisi data diri, melakukan screening test, membuat desinfektan booth dan/atau UV-room, menyediakan ruang isolasi sementara, petugas medis on-sight, dan perlengkapan pelindung diri seperti masker, face shield, sarung tangan, sanitizer, proses antrian makanan, sampai air purifier. Hal-hal kecil yang secara visual dapat terdeteksi oleh mata pengunjung, akan membuat mereka mengapresiasi upaya penyelenggara event, dan bukan tidak mungkin, testimoni positif akan terbentuk untuk mencegah risiko bully di ranah media digital.


Kedua, mengarahkan pertemuan skala kecil. Semakin sedikit orang, semakin baik. Meskipun sampai saat ini, belum ada patokan khusus berapa jumlah peserta event offline yang ideal, namun Mignott menyarankan agar peserta bisa ditekan di bawah 50 orang. Trik-nya, event bisa dibuat beberapa kali dengan jumlah peserta seminimal mungkin.


Terakhir, periode waktu disusun sepadat mungkin. Selamat tinggal (sementara) menyanyikan lagu-lagu kebangsaaan, selamat tinggal (sementara) tari-tarian pengantar, dan selamat datang rundown padat, singkat, dan efisien.  


Pertanyaannya kemudian, apakah hal di atas bisa menjadi pegangan bagi pelaku industri event untuk tetap menjaga gemerlapnya? Kami kira, bukan mustahil. Selayaknya pelaku perubahan, usaha pertama tidak akan selalu sempurna, namun semua orang akan menjadikan kisah Anda sebagai benchmark!


Tetap semangat, kawan-kawan pegiat event!


Ditulis oleh: Neily Cholida

Getting closer to your costumer is important, but letting them get a taste of experience to learn your brand, is beyond greatness. We believe that as customers, could grow accustome to a certain loyalty toward brands. That at least, can be proven on my long lists of personal hygine brands in my bathroom, or basic staple foods in my kitchen! The key is to enabling your brand speaks wisdom and communications may boost the significance even bigger. As public relations agency, we understand the situation that you are going through. Check on our portfolio and brand new offering for ventures who wishes to kickstart the branding and communications strategy within the new normal. Check out our latest offer here!


© 2018 by Dialogue Communications

World Trade Center (WTC), 10th Floor

Jl. Jendral Sudirman Kav. 29-31

Jakarta, 12920

  • Dialogue Communications
  • dialoguecomms.id
  • DialogueTunes