• Dialogue Communications

Fintech Project Finacing “Likuid” Diluncurkan!

Perusahaan finansial teknologi PT Likuid Dana Bersama (“Likuid”) hari ini resmi meluncurkan online platform pembiayaann proyek ke publik. Mengusung tema “Access Granted” yang bermakna “akses terbuka”, Likuid ingin memperkuat pertumbuhan industri kreatif dan gaya hidup (lifestyle) di Indonesia dengan membuka akses permodalan bagi pelaku usaha, serta akses investasi yang terjangkau bagi masyarakat.


Fokus Likuid terhadap industri kreatif dan gaya hidup berangkat dari situasi di mana masih banyaknya pelaku usaha di bidang ini yang kurang bisa memaksimalkan karyanya karena terhimpit modal kerja yang terbatas. Padahal, untuk bisa terus bersaing dan mengikuti tren, pelaku industri ini juga perlu disokong dana yang tidak sedikit. Kondisi ini juga ditunjukkan dengan data dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) tahun 2017 di mana sekitar 92,37% pelaku industri kreatif di Indonesia masih mengandalkan modal pribadi dan belum menerima akses permodalan dari pihak lain selain Bank. Sementara akses permodalan alternatif lainnya masih didominasi oleh investor high net-worth saja.



CEO dan Founder Kenneth Tali mengungkapkan “Produk industri kreatif dan gaya hidup sangat dekat dengan masyarakat, seperti hiburan, kuliner, fashion, kecantikan, dan kesehatan. Inovasi produk dan pelaku usaha industri ini juga terus meningkat. Oleh karena itu, kami percaya bahwa untuk memperkuat industri ini diperlukan partisipasi masyarakat luas, tidak hanya sebagai konsumen namun juga sebagai investor. Di sinilah Likuid berperan membuka akses permodalan bagi pelaku usaha dan akses investasi bagi masyarakat umum. Harapan kami, bisnis-bisnis industri kreatif menjadi lebih ramah dijangkau untuk semua kalangan, termasuk investor pemula” ungkap Kenneth.


Namun Likuid memahami, meskipun keberadaan industri ini dekat dengan masyarakat, tingkat kepercayaan masyarakat untuk berinvestasi pada sektor ini masih rendah. Selama ini, persaingan industri kreatif dikenal cukup dinamis sehingga dianggap berisiko tinggi. Di sinilah Likuid berperan mengkurasi serta menganalisa potensi dan risiko proyek bisnis secara menyeluruh guna menjawab keraguan masyarakat selaku calon investor.

Untuk menghadirkan skema pendanaan bisnis dan investasi yang ideal bagi kedua belah pihak, Likuid menciptakan skema Project Financing yang berbasis revenue sharing atau pembagian pendapatan dan profit sharing atau pembagian keuntungan, dimana potensi imbal hasil untuk investor sebesar 12% hingga 20%. Skema ini memungkinkan investor dapat berinvestasi secara kolektif (atau disebut dengan urun dana) dengan minimal pendanaan Rp 100,000. Ketentuan minimal dana investasi yang relatif rendah ini sekaligus menunjukkan upaya Likuid agar kesempatan investasi ini berlaku bagi semua kalangan masyarakat.


Usai peresmian ini, Likuid menargetkan menjaring 2.500 pengguna dalam kurun waktu empat bulan usai resmi meraih status terdaftar dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Saat ini Likuid beroperasi dengan status tercatat di regulatory sandbox Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak Juli 2019.


“Demi memberikan dampak produktivitas yang visible bagi industri ini, Likuid menargetkan dapat menyalurkan pendanaan sebesar 40 miliar di tahun 2020. Ada enam sektor bisnis yang menjadi sasaran Likuid, yaitu kuliner, hiburan (film, serial, dan konser), e-sports, kecantikan, kesehatan, dan startup. Di tahap awal ini, Likuid telah mempersiapkan empat proyek pendanaan perdana yang segera diluncurkan ke publik” tutup Kenneth.

Saat ini, calon investor sudah dapat melakukan registrasi pada website Likuid (www.liku.id) dan mengetahui proyek pendanaan yang resmi dibuka. Likuid menargetkan calon investor sudah dapat mulai bertransaksi di website-nya dalam akhir bulan Februari ini.


Siapkan Empat Proyek Pendanaan Perdana untuk Publik


Dalam kesempatan ini, Likuid turut memperkenalkan empat proyek pendanaan yang tengah disiapkan untuk publik. Proyek ini terdiri dua proyek pertama yang sudah resmi terdaftar, yaitu Film Dealova 2 dari rumah produksi film dan karya visual PT Capo dei Capi (“Capo dei Capi”), dan Penempatan Iklan dari platform marketplace media iklan dan promosi PT ADX Asia Indonesia (“ADX Asia”), kemudian dua proyek lainnya yang sedang dalam tahap finalisasi kerjasama, yaitu Pembukaan Jaringan Baru Minuman “Gulu-Gulu”dari produsen makanan dan minuman PT Berjaya Sally Ceria (“Sour Sally Group”), dan Perhelatan Konser dan Pertandingan Olahraga skala Internasional dari penyedia jasa konsultasi dan promotor acara PT Stellar Indonesia (“Stellar Indonesia”).

Proyek pendanaan pertama yang terdaftar di Likuid yaitu Film Dealova 2 yang tengah digarap oleh CEO dan Sutradara Rumah Produksi Capo dei Capi Andibachtiar Yusuf. Andibachtiar yang juga merupakan Sutradara Film Love For Sale 1 & 2 ini menyampaikan kondisi industri perfilman saat ini. “Antusiasme penonton Indonesia terhadap film lokal terus meningkat setiap tahun. Dalam tiga tahun terakhir, sangat mungkin bagi sebuah karya film untuk meraih penonton hingga 2,000,000 penonton. Bisa dibilang, saat ini ekosistem perfilman Indonesia sedang dalam masa terbaiknya dibarengi dengan makin banyaknya produksi film serta pertumbuhan layar bioskop.” ujar Andi. Tercatat di tahun 2018 jumlah penonton film Indonesia mencapai 51,2 juta penonton. Sementara, jumlah bioskop tahun 2018 meningkat hingga 343 bioskop.


Sementara itu, CEO dan Founder ADX Asia Elbert Toha menerangkan bahwa pendanaan investor Likuid ini sejalan dengan misi ADX Asia yang ingin lebih banyak melibatkan masyarakat pada industri kreatif, khususnya periklanan. Elbert menyatakan, “Pendanaan melakui Likuid membuka pintu bagi masyarakat kepada kepemilikan aset produktif yang selama ini hanya dimiliki oleh golongan tertentu. Likuid membantu ADX Asia menjadi pionir shared economy di industri periklanan yang terkenal tradisional dan konvensional.”


Sebagai satu-satunya perwakilan bisnis food and beverages di Likuid saat ini, CEO dan Founder Sour Sally Group Donny Pramono Ie menjelaskan bahwa skema pendanaan bisnis yang ditawarkan Likuid dapat membantu usahanya untuk berkembang secara mandiri tanpa harus mengandalkan modal yang diperoleh dari pendapatan bisnis yang sudah berjalan. Pendanaan dari investor Likuid akan mendukung Sour Sally Group untuk merambah bisnis food and beverages lainnya yang memiliki model quick service retail, yaitu Gulu-Gulu. “Kerjasama ini akan membantu Sour Sally Group untuk penambahan cabang retail Gulu-Gulu di wilayah luar Jakarta dan luar Pulau Jawa. Sejauh ini produk-produk Gulu-Gulu mendapat penerimaan yang amat baik dari masyarakat dengan jaringan yang sudah mencapai 121 cabang di seluruh Indonesia.” jelas Donny.


Sementara itu, sektor lainnya yang juga tak kalah potensial adalah bisnis promotor acara. Berpengalaman sebagai salah satu pelaksana ASIAN Games 2018 lalu, Creative Director Stellar Indonesia Fajar Faisal . optimis konsumsi masyarakat terhadap perhelatan acara hiburan, seni, dan olahraga ke depannya akan terus meningkat. “Saat ini Indonesia menjadi salah satu destinasi negara favorit di Asia untuk sejumlah musisi internasional. Salah satu konser internasional yang sukses kami selenggarakan ialah Konser Musisi Jennifer Lopez “JLO Dance Again World Tour” yang mampu menyerap 12,000 penonton pada tahun 2012. Semakin banyaknya masyarakat yang menonton konser, standar dan ekspektasi masyarakat terhadap promotor acara juga meningkat, tidak hanya sekedar menyaksikan idolanya saja. Pendanaan sangat berperan bagi sebuah promotor acara untuk berlomba-lomba memberikan pengalaman event yang berkesan bagi konsumen” terang Fajar.

© 2018 by Dialogue Communications

Indonesia Stock Exchange Building I

26th Floor (2608)

Jl. Jenderal Sudirman Kav 52 – 53

Jakarta 12190, Indonesia

  • Dialogue Communications
  • dialoguecomms.id
  • DialogueTunes